Pengungkap video berisi praktek prostitusi di dalam Rutan tersebut menuding Denny menjebak dirinya. Dia mengatakan Denny sempat meminta bertemu dengan dirinya di sebuah alamat kawasan Menteng Jakarta.
Ketika dirinya dalam perjalanan ke lokasi dimaksud, tiba-tiba Denny meminta dirinya ke Rutan Salemba. " Yang jelas kemarin saya merasa dijebak oleh Denny. Ini bukan sifat dari seorang Wakil Menteri ," ungkap SR, di Jakarta, Kamis (17/11/2011).
Begitu sampai di Rutan Salemba, bukan pujian yang didapat, karena telah mengungkap bobroknya kondisi Rutan, dia malah dimaki oleh Amir Syamsuddin. Lanjutnya, usai puas memaki, Amir pergi meninggalkan begitu saja dan sempat mengatakan tidak ingin berdialog dengan dirinya.
" Kata manteri, ‘kamu buat pernyataan di seluruh Indonesia mempermalukan saya’. Terus saya bilang ‘itu saya buat 2008. Adapun kalau hari ini tidak ada itu mustahil’ ," ucapnya.
Sementara itu, demi keselamatan dirinya, SR mendatangi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Tujuannya, kata SR untuk mendapatkan perlindungan, tidak hanya sekadar dari ancaman fisik. Tapi juga perlindungan atas tuntutan hukum dari lembaga dan individu yang merasa dirugikan atas aksinya.
" Lembaga ini dibuat untuk melindungi saksi, kita coba prosedurnya, apa lembaga ini memberikan perlindungan ke saya dan prosedurnya dilakukan atau tidak ," jelasnya.
Menindaklanjuti laporan pengaduan SR, LPSK akan berkoordinasi dengan Amir Syamsuddin dan Denny Indrayana. Pihaknya yakin, Denny Indrayana akan bersikap terbuka, mengingat dia bersama Amir Syamsuddin yang melakukan inspeksi mendadak (Sidak) sebelumnya ke Rutan Salemba.
" Saat ini SR belum melaporkan kepada penegak hukum terkait video tersebut. Namun kami respons dan berkoordinasi dengan Wakil Menkum HAM karena dia yang bertanggung jawab terhadap Lapas ," terang Ketua
LPSK Abdul Haris kepada wartawan, Jakarta, Kamis (17/11/2011). Pada kesempatan yang berbeda, Sidak yang dilakukan Amir dan Denny beberapa waktu lalu ke Rutan Salemba dinilai masih sebatas layaknya Kunjungan Kerja (Kunker) belaka. Hasil sidak itu sama sekali tidak menunjukkan untuk melakukan suatu perbaikan Rutan.
" Namun ada yang ganjil dari sidak kemarin, biasanya Pak Denny sidak tengah malam, ini malah yang dilakukan kunker ," ujar politikus
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aboe Bakar, Jakarta. Padahal adanya penjara mewah bagi terpidana kasus suap Ayin yang sempat menghebohkan, adalah berdasarkan hasil temuan Denny Indrayana beberapa waktu lalu.
" Seingat saya Pak Denny dulu juga melempar persoalan ini ke publik, gara-gara sel Ayin lah namanya moncer (terkenal) di Satgas PMH (Pemberantasan Mafia Hukum) ," tukasnya.
Senada dengan politikus PKS lainnya, Nasir Djamil. Dia menilai Sidak yang dilakukan Amir dan Denny lebih kental unsur pencitraannya. Menurutnya yang terpenting sekarang adalah, Menkum HAM melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap Rutan dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
" Menteri harus memasang pegawai rutan yang dipercaya guna mendapatkan info yang sesungguhnya tentang Rutan. Info itu diolah dan diambil tindakan. Kalau sidak itu sifatnya lebih kepada pencitraan ," tandas anggota Komisi Hukum DPR ini. (Red. / sindonnews)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar